PETA SEBAGAI KOMUNIKASI VISUAL PERENCANAAN WILAYAH dan KOTA
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, peta diartikan sebagai
suatu gambar atau lukisan pada kertas yang menunjukkan letak tanah, laut,
sungai, gunung, dan lain sebagainya; representasi melalui gambar dari
suatu daerah yang menyatakan sifat, seperti batas daerah, sifat permukaan, dan
denah. Peta merupakan gambar sebagian atau keseluruhan
permukaan bumi dengan perbandingan tertentu.
Peta dapat dikatakan hampir menyerupai sebuah denah, namun peta
menggambarkan tempat yang lebih luas. Peta
juga merupakan gambaran dua dimensi dari suatu ruang tiga dimensi. Ilmu yang
mempelajari pembuatan peta disebut kartografi
yaitu ilmu
yang khusus mempelajari segala sesuatu tentang peta. Mulai dari sejarah,
perkembangan, pembuatan, pengetahuan, penyimpanan, hingga pengawetan serta
cara-cara penggunaan peta. Menurut
Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL, 2005) Bakosurtanal adalah akronim dari Badan
Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional. Menurut lembaga ini, pengertian peta
adalah wahana bagi penyimpanan dan penyajian data kondisi lingkungan yang dapat
menjadi sumber informasi bagi para perencana dan pengambilan keputusan pada
tahapan dan tingkatan pembangunan. Dari pengertian tersebut dapat diketahui
bahwa fungsi peta yaitu sebagai sumber informasi bagi planner pembangunan untuk
melakukan sebuah rencana pembangunan.
Adapun bentuk komunikasi yang digunakan planner dalam bidang perencanaan wilayah
dan kota ada dua yaitu komunikasi lisan tertulis dan komunikasi visual.
Komunikasi lisan biasanya digunakan planner pada saat melakukan interaksi
kepada masyarakat untuk menjelaskan aspek-aspek apa saja yang ingin di
sampaikan untuk mencapai sebuah tujuan dimana semua orang mengerti apa yang
kita jelaskan dan komunikasi tertulis biasanya digunakan saat mengirimkan pesan
berbentuk email yang memuat informasi berupa data-data yang diperlukan
sedangkan komunikasi visual (komunikasi melalui penglihatan) yaitu sebuah
rangkaian proses penyampaian informasi atau pesan kepada pihak lain dengan
menggunakan media penggambaran yang hanya terbaca oleh indera penglihatan
contohnya seperti gambar peta,maket,desain,grafis,poster ataupun vido. Pada
umumnya media ini digunakaan saat planner melakukan presentasi dan promosi dari
sebuah peta. Bisa dikatakan peta
adalah bentuk komunikasi secara visualisasi di dalam bidang perencanaan, peta
sangat lah penting sebagai wacana awal untuk pembangunan didalam perencanaan
itu sendiri. Peta sangat lah penting di dalam bidang perencanaan, karena
bagaimana bisa kita membangun tata ruang jika tidak tau daerah mana yg akan
kita rencanakan. Maka dari itu berdasarkan
sumber data , peta dapat digolongkan menjadi dua jenis yaitu Peta induk (Basic Map) merupakan peta yang dihasilkan dari survei
langsung di lapangan. Peta induk dapat digunakan sebagai dasar pembuatan dari
peta topografi dan menjadi dasar dari pembuatan peta-peta lainnya. Peta Turunan (Derived Map)
Peta turunan merupakan peta yang dibuat berdasarkan pada acuan peta yang sudah
ada sehingga tidak memerlukan survei langsung ke lapangan. Berdasarkan isi data yang
disajikan, Peta dapat di bagi menjadi dua macam yaitu peta umum dan peta
tematik/khusus. Peta umum merupakan peta yang menggambarkan semua topografi di
permukaan bumi seperti unsur alam (sungai, danau), unsur buatan manusia
(jembatan, jalan dan lain-lain) maupun bentuk permukaan bumi (gunung, lembah).
Peta umum dapat kita bedakan menjadi tiga macam yakni: Peta Topografi, Peta
Chorografi,Peta Dunia .
Gambar, contoh peta umum yang menggambarkan batas-batas wilayah
indonesia (sumber : mediasip.blogspot.co.id)
Yang kedua yaitu Peta tematik/khusus merupakan peta yang
menggambarkan informasi dengan tema khusus suatu daerah tertentu atau
keseluruhan daerah bumi. Contohnya
adalah peta persebaran hasil tambang ,peta geologi, peta kepadatan penduduk, peta tempat-tempat
wisata dan lain-lain.
Gambar. Peta tematik tentang
kepadatan penduduk di daerah Bantul, Yogyakarta (Sumber:
invesda.bantulkab.go.id)
Penggolongan peta selanjutnya adalah
berdasarkan Skala yang digunakan, berdasarkan skala,
peta dapat dibagi menjadi beberapa jenis antara lain: Peta Kadaster/Peta Teknik, Peta Skala
Besar, Peta Skala Sedang, Peta Skala Kecil, Peta Geografi/Peta Dunia.
seperti yang kita
ketahui peta memiliki unsur-unsur yang membuat peta itu menjadi salah satu
bentuk komunikasi secara visual yaitu : unsur yang pertama adalah judul Peta, yang berisi keterangan tentang daerah yang
digambarkan dan biasanya dicantumkan diatas gambar peta. Yang kedua Petunjuk Arah, yaitu gambar mata angin yang
penggambarannya cukup dengan huruf U (arah utara) yang terletak dibagian kosong
(pinggir peta) agar tidak mengganggu inti peta yang ingin di informasikan.unsur
yang ketiga, Skala adalah ukuran perbandingan antara keaadaan yang ada pada
peta dengan keadaan aslinya. Unsur yang keempat, tahun Pembuatan menggambarkan keadaan lapangan baik asli ataupun buatan.
Unsur yang kelima, legenda merupakan Penjelasan
penting mengenai simbol-simbol yang digunakan pada peta. Yang keenam, garis
Astronomis yaitu garis yang digunakan untuk menentukan lokasi suatu tempat.
Unsur selanjutnya yang
harus ada yaitu Simbol,Lettering,Inset ,Garis Tepi,dan unsur yang
terakhir adalah Tata Warna .
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Peta
selalu menjadi bagian penting dalam menyusun produk-produk perencanaaan wilayah
dan kota terutama dalam visualisasi produk-produk perencanaaan wilayah dan kota
di Indonesia . Di Indonesia sendiri terdapat berbagai macam produk
perencanaan wilayah dan kota seperti Rencana Tata Ruang Kota (RTRW) yang
membicarakan mulai dari cangkupan nasional hingga ke kota, Rencana Detail Tata
Ruang Kota (RDTRK), Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) dan masih
banyak lagi. Perbedaan produk – produk tersebut biasa dari segi visualisasi
yang dibicarakan atau ditampilkan, semakin kecil cangkupannya maka yang
dibicarakan atau yang ditampilkan dari produk tersebut akan lebih detail,
begitu juga sebaliknya. Selain peta yang secara umum efisien sebagai media
penyampaian visual planner kepada masyarakat karena lebih mudah dipahami
masyarakat serta dapat meminimalisir terjainya konflik akibat adanya kesalahan
dalam pemahaman dan perbedaan presepsi, media informatif lain
yang lebih sederhana yang dapat digunakan planner untuk menyampaian visualisasi perencanaan dapat menggunakan media
gambar,animasi,poster,video,atau maket atau alat bantu dalam mempresentasikan kalayak
ramai mengenai suatu kawasan/bangunan yang akan dibangun.
Seorang
perencanaan wilayah dan kota sendiri memiliki media – media yang bisa digunakan
untuk menghasilkan suatu produk visual seperti sketchup yang digunakan untuk
mendesign sesuatu yang bersifat 3D. Sketch up dikembangkan oleh google yang
memang dibuat untuk berbagai design 3D. Dalam perencanaan wilayah dan kota,
aplikasi yang paling sering digunakan adalah arcgis. Aplikasi ini berbasis
geografis, hal ini dapat diketahui pada nama aplikasi tersebut “GIS” yang
berarti geographic infromation system atau dalam bahasa indonesia “SIG” yaitu
sistem informasi geogafis. Aplikasi ini digunakan untuk mengolah dan menyimpan
data atau informasi geografis. Ada juga autoCAD, autoCAD adalah program yang
digunakan untuk menggambar serta merancang sesuatu dengan bantuan komputer
dalam pembentukan meodel serta ukuran dua dan tiga dimensi. Arti kata CAD pada
autoCAD adalah Computer-aided Drafting and Design Program. Corel Draw adalah
applikasi yang menggabungkan semua aplikasi sebelumnya, jadi dapat memperindah
suatu produk. Corel Draw adalah program ilustrasi atau editor grafik vektor.
Biasanya untuk membuat masyarakat awam mampu membaca informasi – infomasi yang
kita berikan, maka lebih sering kita memakai software ini. Biasanya software
ini mempunyai produk seperti poster maupun majalah yang mudah dimengerti oleh
masyarakat awam.
Dari pemaparan diatas dapat
disimpulkan bahwa peta bukan hanya berfungsi menunjukkan lokasi suatu tempat
atau ketampakan alam di permukaan bumi. Peta
selalu menjadi bagian penting dalam menyusun produk-produk perencanaaan wilayah
dan kota terutama dalam visualisasi produk-produk perencanaaan wilayah dan kota
di Indonesia.
SUMBER
:
4. http://e-journal.uajy.ac.id/7103/3/2TA13262.pdf
5.Murtianto, Hendor. 2008. “Modul
Belajar geografi”. UPI : Bandung padahttp://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/LAINNYA/HENDRO_MURTIANTO/25_Modul_Belajar_Geografi.pdf


Komentar
Posting Komentar