Langsung ke konten utama

Isu Kependudukan di Kota Balikpapan

Dampak Urbanisasi di Kota Balikpapan

  Balikpapan adalah sebuah kota di provinsi Kalimantan Timur, kota yang terkenal akan hasil minyak bumi dan hasil tambangnya. Sebagai satu kota yang memiliki sejarah dengan minyak, Balikpapan mewariskan kebudayaan urban. Dalam perjalanan waktu yang panjang dari sebuah kampung berhutan hingga menjadi kota besar, modernisasi terus diperlihatkan kota Balikpapan seperti hotel, mall, apartemen, gedung perkantoran, perumahan mewah serta bangunan-bangunan yang tinggi dan rendah saling berdesakan seiring bertambah padatnya penduduk kota Balikpapan. Disamping semua kemajuan yang terjadi di kota Balikpapan telah memicu masalah-masalah sosial yang marak diperbincangkan oleh para petinggi-petinggi kota Balikpapan yang sampai saat ini masih menjadi masalah umum kota Balikpapan.
Tercatat pada pada tahun 2016, jumlah penduduk Kota Balikpapan bertambah 25.645 menjadi 762.492 jiwa dan pada tahun 2015 hanya 736.807 jiwa atau mengalami kenaikan 3,43 persen. Migrasi penduduk Kota Balikpapan terdiri dari pendatang sebanyak 29.201 jiwa, kelahiran berjumlah 14.394 jiwa, kematian 3.699 jiwa
Melihat ledakan penduduk yang diakibatkan urbanisasi di kota Balikpapan menimbulkan masalah-masalah baru seperti pengangguran dan kemiskinan contohnya. Tercatat  pada tahun 2017 angka pengangguran mencapai 31.000 orang atau 10,39 persen dari jumlah angkatan kerja yang mencapai 298 ribu jiwa. Hal ini diperkirakan karena terjadinya perlambatan ekonomi,tenaga kerja yang ter PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) serta  banyaknya warga pendatang tanpa keahlian yang menganggap kota Balikpapan adalah tempat yang strategis diakses baik dari laut maupun udara, untuk mencari pekerjaan yang lebih layak. Hal ini dapat berdampak buruk  bagi perekonomian kota Balikpapan karena, tingginya tingkat migrasi penduduk yang masuk ke Kota Balikpapan berdampak pada permasalahan kependudukan, salah satunya permasalahan kemiskinan. Semakin tingginya angka pengangguran yang ada pada kota Balikpapan maka semakin besar pula angka kemiskinan penduduk yang disebabkan tidak adanya pemasukan rumah tangga maupun pemasukan daerah. Ada beberapa faktor yang mengakibatkan tingginya angka pengangguran di Balikpapan. Salah satunya adalah jumlah angkatan kerja yang tidak sebanding dengan jumlah lapangan pekerjaan yang mampu menyerapnya, sehingga pengangguran menjadi masalah dalam perekonomian. Sesuai dengan data Disdukcapil, dari jumlah penduduk 735.850 jiwa, sebanyak 24.740 jiwa atau 3,66 persen dari jumlah penduduk Kota Balikpapan adalah penduduk miskin. Jumlah tersebut naik dari tahun sebelumnya, yakni dari 706.414 jumlah penduduk Balikpapan di tahun 2014, sebanyak 19.539 jiwa atau 2,76 persennya adalah penduduk miskin.
     Oleh karena itu untuk mengatasi masalah pengangguran di Kota Balikpapan, pemerintah terus berupayah dalam menekan angka pengangguran yang semakin meningkat. Adapun upaya pemerintah yaitu menyelenggarakan job fair untuk pencari kerja di kota Balikpapan setiap dua kali dalam satu tahun, menyelenggarakan program pelatihan tenaga kerja, memperbanyak program motivasi kerja berupa bimbingan jabatan pada tahun 2015. Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perekonomian, serta mendukung pembangunan di kota Balikpapan.







Daftar Pustakan
Badan Pusat Statistik.2015.”Jumlah Penduduk,” Balikpapan : Indonesia
Badan Pusat Statistik.2015.”Jumlah Migrasi Penduduk,” Balikpapan : Indonesia
Badan Pusat Statistik.2016.”Jumlah Penduduk,” Balikpapan : Indonesia
Badan Pusat Statistik.2017.”Jumlah Pengangguran,” Balikpapan : Indonesia
Disdukcapil.2014.”Jumlah penduduk Miskin,” Balikpapan : Indonesia
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Balikpapan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PETA SEBAGAI KOMUNIKASI VISUAL PERENCANAAN WILAYAH dan KOTA Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, peta diartikan sebagai suatu gambar atau lukisan pada kertas yang menunjukkan letak tanah, laut, sungai, gunung, dan lain sebagainya;  representasi melalui gambar dari suatu daerah yang menyatakan sifat, seperti batas daerah, sifat permukaan, dan denah. Peta merupakan gambar sebagian atau keseluruhan permukaan bumi dengan perbandingan tertentu. Peta dapat dikatakan hampir menyerupai sebuah denah, namun peta menggambarkan tempat yang lebih luas. Peta juga merupakan gambaran dua dimensi dari suatu ruang tiga dimensi. Ilmu yang mempelajari pembuatan peta disebut kartografi yaitu   ilmu yang khusus mempelajari segala sesuatu tentang peta. Mulai dari sejarah, perkembangan, pembuatan, pengetahuan, penyimpanan, hingga pengawetan serta cara-cara penggunaan peta . Menurut Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL, 2005) Bakosurtanal adalah akronim dari Badan Koord...
CRITICAL REVIEW PERENCANAAN PESISIR Judul Jurnal     : Jurnal Ekonomi Pembangunan (Pembangunan Masyarakat Peisisr Selatan    Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) : Masalah dan Tantangannya). Penulis               : Imamudin Yuliadi Fakultas Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Alamat               : Jl. Lingkar Barat, Tamantirto, Kasihan, Bantul, 55183 Yokyakarta Indonesia Publikasi           : Jurnal Ekonomi Pembangunan, Volume 14 Nomor 2, Desember 2013. Nama/Nim         : Elen Agarista (08171016) A.     Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Namun dengan panjang garis pantai tersebut, pengelolaan wilayah pesisir belum optimal dan merat...