Langsung ke konten utama

Isu Permasalahan Ekosistem Hutan Mangrove


“ Isu Permasalahan Ekosistem Hutan Mangrove di Kecamatan Mayang Probolinggo “

Menurut Undang-Undang No. 41/1999 dan Undang-Undang No. 19/2004 yang mengatur tentang Kehutanan, hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Sedangkan menurut Purnobasuki (2005) dalam Kordi (2012) mangrove adalah vegetasi hutan yang tumbuh pada tanah aluvial di daerah pantai dan sekitar muara sungai yang dipengaruhi oleh arus pasang surut air laut.
Ekosistem hutan bakau bersifat khas, karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya abrasi tanah, salinitas (tingkat keasinan) tanahnya yang tinggi, serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.
Hutan mangrove merupakan salah satu bentuk ekosistem hutan yang memiliki nilai ekonomis dan ekologi yang tinggi, karena sangat menunjang perekonomian masyarakat pantai terutama masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan. Keberagaman jenis mangrove dan keunikannya juga memiliki potensi sebagai wahana hutan wisata dan perlindungan wilayah pesisir dan pantai dari berbagai ancaman sedimentasi, abrasi, pencegahan intrusi air laut, serta sebagai sumber pakan habitat biota laut, tetapi sangat rentan terhadap kerusakan apabila pengelolaannya kurang bijaksana.
Kondisi hutan mangrove pada umumnya memiliki banyak permasalahan atau  tekanan, selain dialihfungsikan, kawasan mangrove di beberapa daerah termasuk Kecamatan Mayang di Kota Probolinggo banyak dialihfungsikan sebagai tambak. Akibat yang ditimbulkan yaitu terganggunya peranan fungsi sebagai habitat biota laut, perlindungan wilayah pesisir, dan terputusnya mata rantai makanan bagi biota pesisir. Tekanan terhadap hutan mangrove di wilayah kota probolinggo, sebagai akibat berkembangnya pusat-pusat kegiatan dan berbagai aktivitas manusia, juga disebabkan oleh beberapa aspek kegiatan antara lain pengembangan permukiman, pembangunan fasilitas rekreasi, dan pemanfaatan lahan pasang surut untuk kepentingan budidaya pertambakan.
Dari hasil pemantauan tim IbW (Iptek bagian Wilayah) Kecamatan Mayang, Kondisi kawasan pantai di wilayah ini kini dalam keadaan terganggu dan diduga tidak dapat mendukung keseimbangan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Kualitas perairan sekitar Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Mayangan semakin memburuk dibanding tahun-tahun sebelumnya, hal ini dikarenakan beberapa penyebab terjadinya degradasi lingkungan seperti penumpukan sampah industri dan rumah tangga di sekitar pantai yaitu ketika industri dan rumah tangga membuang sampah di pantai dan hanyut terbawa air laut akan membawa sampah dan terjadi penumpukan di sekitaran pantai, jika hal ini terus-menerus terjadi akan semakin mengotori air laut dan menimbulkan degradasi lingkungan.
Penebangan liar hutan mangrove untuk berbagai kepentingan juga menjadi penyebab degradasi lingkungan secara langsung karena dapat mengakibatkan terjadinya abrasi pantai. Fungsi mangrove sebagai penahan gelombang atau pemecah gelombang akan hilang ketika penebangan gutan ini terus dilakukan, sehingga berkurangnya mangrove di beberapa kawasan juga membuat air pasang masuk hingga ke perkampungan nelayan dan merendam rumah warga sekitar. Sementara abrasi bukan hanya mengikis wilayah pantai tetapi juga lahan pertanian,perkebunan, jalan, dan perkampungan penduduk. Akibat jangka panjang yang seaat ini sudah dirasakan adalah pemanasan global (global warming) karena mangrove merupahan tumbuhan yang dapat mengurangi pemanasan tersebut dan mengurangi efek rumah kaca.
Reklamasi adalah penyebab degradasi berikutnya karena akan mengakibatkan perubahan ekosistem kawasan pesisir. Dampak buruk yang mungkin akan terjadi adalah intrusi air dan ketidakseimbangan sedimentasi yang akan mengakibatkan perubahan garis pantai. Perubahan ini terjadi akibat adanya sedimentasi pada satu sisi dan abrasu pada sisi yang lain.
Agar degradasi kawasan pesisir ini tidak terus menerus terjadi dilakukanlah pendampingan dan pembinaan dalam konsevasi ekologi hutan mangrove di Kota Probolinggo. Hal ini perlu dilakukan guna melakukan pemulihan habitat kawasan-kawasan terdegradasi atau terganggu fungsi ekosistemnya, caranya dengan melakukan rehabilitasi dan reklamasi habitat. Sedangkan untuk peningkatan kawasan hijau dilakukan pengembangan jenis-jenis tumbuhan. Sedangkan untuk pemulihan kualitas lingkungan dilakukan dengan melalui penilaian kawasan mangrove, peningkatan kualitas habitat, peningkatan kualitas kawasan hijau, dan pemberdayaan masyarakat terhadap kawasan mangrove.
Pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui kegiatan pembinaan masyarakat melalui penghijauan, pelatihan dan penyuluhan. Hal ini penting dilakukan mengingat kembali bahwa hutan mangrove memiliki fungsi dan manfaat yang sangat besar bagi masa depan lingkungan hidup manusia sehingga hutan mangrove perlu dilestarikan, dipelihara, dan dimanfaatkan hasilnya dengan baik. Untuk itu sangat perlu melibatkan masyarakat dalam penyusunan proses perencanaan dan pengelolaan hutan mangrove secara lestari. Pengelolaan hutan mangrove secara lestari adalah upayah menggabungkan kepentingan ekologi (konservasi hutan mangrove) dengan kepentingan sosial ekonomi masyarakat di sekitar wilayah hutan mangrove.
Dengan demikian strategi yang diterapkan harus mampu mengatasi masalah sosial ekonomi masyarakat selain tujuan konservasi hutan mangrove tercapai.salah satu strategi penting dalam konteks pengelolaan sumberdaya alam adalah pengelolaan berbasis masyarakat. Agar pelaksanaan proram konservasi ekologi hutan mangrove dapat berjalan sesuai dengan terget semulihan secara menyeluruh perlu dipersiapkan rencana untuk jangka panjang atau menengah.














Daftar Pustaka
Ach. Muhib Zainuri,  Anang Takwanto,  Amir Syarifuddin, 2017. Junal Konservasi Ekologi Hutan Mangrove Di Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo
Kordi, K.M.G.H, 2012. Ekosistem Mangrove Potensi, Fungsi, dan Pengelolaan. PT Rineka
Cipta. Jakarta.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2004 Tentang Kehutanan

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 tahun 1999 Tentang Kehutanan 









Komentar

Postingan populer dari blog ini

PETA SEBAGAI KOMUNIKASI VISUAL PERENCANAAN WILAYAH dan KOTA Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, peta diartikan sebagai suatu gambar atau lukisan pada kertas yang menunjukkan letak tanah, laut, sungai, gunung, dan lain sebagainya;  representasi melalui gambar dari suatu daerah yang menyatakan sifat, seperti batas daerah, sifat permukaan, dan denah. Peta merupakan gambar sebagian atau keseluruhan permukaan bumi dengan perbandingan tertentu. Peta dapat dikatakan hampir menyerupai sebuah denah, namun peta menggambarkan tempat yang lebih luas. Peta juga merupakan gambaran dua dimensi dari suatu ruang tiga dimensi. Ilmu yang mempelajari pembuatan peta disebut kartografi yaitu   ilmu yang khusus mempelajari segala sesuatu tentang peta. Mulai dari sejarah, perkembangan, pembuatan, pengetahuan, penyimpanan, hingga pengawetan serta cara-cara penggunaan peta . Menurut Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL, 2005) Bakosurtanal adalah akronim dari Badan Koord...

Isu Kependudukan di Kota Balikpapan

Dampak Urbanisasi di Kota Balikpapan   Balikpapan adalah sebuah kota di provinsi Kalimantan Timur, kota yang terkenal akan hasil minyak bumi dan hasil tambangnya. Sebagai satu kota yang memiliki sejarah dengan minyak, Balikpapan mewariskan kebudayaan urban. Dalam perjalanan waktu yang panjang dari sebuah kampung berhutan hingga menjadi kota besar, modernisasi terus diperlihatkan kota Balikpapan seperti hotel, mall, apartemen, gedung perkantoran, perumahan mewah serta bangunan-bangunan yang tinggi dan rendah saling berdesakan seiring bertambah padatnya penduduk kota Balikpapan. Disamping semua kemajuan yang terjadi di kota Balikpapan telah memicu masalah-masalah sosial yang marak diperbincangkan oleh para petinggi-petinggi kota Balikpapan yang sampai saat ini masih menjadi masalah umum kota Balikpapan. Tercatat pada pada tahun 2016, jumlah penduduk Kota Balikpapan bertambah 25.645 menjadi 762.492 jiwa dan pada tahun 2015 hanya 736.807 jiwa atau mengalami kenaikan 3,43 ...
CRITICAL REVIEW PERENCANAAN PESISIR Judul Jurnal     : Jurnal Ekonomi Pembangunan (Pembangunan Masyarakat Peisisr Selatan    Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) : Masalah dan Tantangannya). Penulis               : Imamudin Yuliadi Fakultas Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Alamat               : Jl. Lingkar Barat, Tamantirto, Kasihan, Bantul, 55183 Yokyakarta Indonesia Publikasi           : Jurnal Ekonomi Pembangunan, Volume 14 Nomor 2, Desember 2013. Nama/Nim         : Elen Agarista (08171016) A.     Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Namun dengan panjang garis pantai tersebut, pengelolaan wilayah pesisir belum optimal dan merat...